Toko Adventure Terbaru

Selasa, 23 September 2008

KHUTBAH IEDUL FITRI 1429 H [01] Oleh:KH. ABU BAKAR BA’ASYIR









KHUTBAH

IEDUL FITRI 1429 H

Oleh:

KH. ABU BAKAR BA’ASYIR

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Alhamdulillah, mari kita bersyukur kepada Allah, karena atas rahmat-Nya, kita diberi kemampuan menjalankan shiyam Ramadhan. Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah Ta’ala.

Sebulan penuh kita menjalankan shiyam ramadhan; sebuah media yang Allah ciptakan untuk mentarbiyah pribadi kita. Harapan kita, tentu agar kita termasuk yang lulus dalam paket pendidikan ini. Selama ini kita terlatih untuk beramal tanpa pamrih. Kita tak tergoda makan atau minum meski sedang sendirian, karena kita sadar bahwa kita berpuasa karena Allah dan bukan karena orang lain. Tentu ini pendidikan yang sangat penting, dan kalau semangat beramal tanpa pamrih ini kita bawa pada amal-amal lain, akan mejadi kunci selamat besok di akhirat.

Dalam sebuah riwayat disebutkan ihwal orang yang pertama kali merasakan jilatan api neraka:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bercerita kepadaku bahwa Allah pada hari kiamat turun kepada hamba-hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan semua umat pada waktu itu berlutut. Orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang rajin membaca Alquran, orang yang syahid di jalan Allah, dan orang yang banyak harta. Allah berkata kepada si pembaca Alquran, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu apa yang telah Aku turunkan kepada rasul-Ku?” Ia menjawab, “Ya, sudah”. Allah berkata, “Lalu apa yang kau perbuat dengan yang telah Ku-ajarkan itu?” Ia menjawab, “Aku mengamalkan sepanjang malam dan siang.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” Para malaikat juga menimpali, “Kamu bohong!”, Allah berkata, “Kamu membaca bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki sebagai qari, dan julukan itu memang telah disebut-sebut orang.”

Si Hartawan dihadapkan. Allah bertanya kepadanya, “Bukankah telah Aku luaskan rezeki untukmu sehigga kami tidak membutuhkan orang lain?” Ia menjawab, “Ya benar, Tuhan.” Allah berkata, “Lalu apa yang kami lakukan dengan rezeki yang sudah Aku berikan kepadamu?” Ia menjawab, “Aku bersilaturrahmi dan bersedekah.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” para malaikat pun menimpali, “Kamu bohong!” Allah lalu berkata, “Kamu melakukan itu bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki dermawan, dan julukan itu memang telah disebut-sebut orang.”

Kemudian orang yang terbunuh di jalan Allah (syahid) dihadapkan. Allah berkata, “Mengapa kamu terbunuh?” Ia menjawab, “Aku diperintah untuk berjihad di jalan-Mu, lalu aku berperang sehingga aku terbunuh.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” para malaikat pun menimpali, “kamu bohong!” Allah lalu berkata, “Kamu berperang bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki pemberani, dan julukan itu telah disebut-sebut orang.”

Rasulullah kemudian menepuk kedua bahu saya dan berkata, “Hai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali dijilat oleh api neraka pada hari kiamat. (Muslim, Nasai, Tirmidzi)

Ibadah ,Tugas Utama Hidup

Kita harus ingat bahwa tugas utama hidup manusia hanyalah “mengabdi” atau beribadah kepada Allah Ta’ala. Ini seperti ditegaskan dalam ayatnya:

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya semata-mata untuk beribadah (mengabdi) kepada-Ku saja. (Adz-Dzariyaat: 56)

Begitulah, diciptakannya jin dan manusia hanyalah “untuk beribadah” kepada Allah. Lantas, apakah ibadah itu? Ibadah banyak dipahami secara sempit sebagai kegiatan ritual belaka antara hamba dan Sang Khaliq. Ini jelas keliru, karena “ibadah” bermakna luas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memaknai ‘ibadah’ dengan: “Segala ucapan dan perbuatan yang disukai dan diridhai Allah Ta’ala baik secara dzahir maupun bathin.”

Dengan demikian, cakupan ibadah sangatlah luas; termasuk dengan melaksanakan syari’at Islam atau hukum-hukum Allah Ta’ala secara kaffah (totalitas); meliputi segala aspek kehidupan, mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat hingga urusan negara, bahkan hubungan antar bangsa. Allah Ta’ala berfirman:

“ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al-Baqarah, 2 : 208).

Pada ayat di atas, Allah menginstruksikan dengan tegas dua hal berupa perintah dan larangan.

Pertama: Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk memasuki Islam secara kaffah. Tentu kaffah disini adalah dengan melaksanakan seluruh syari’at-Nya. Tidak boleh ada satu syari’at pun yang sengaja ditinggalkan dan diabaikan.

Kedua: Allah melarang orang-orang beriman untuk mengikuti langkah-langkah setan. Langkah-langkah setan tersebut antara lain berupa godaan, bujukan, provokasi, penyesatan, agar manusia sengaja mengamalkan sebagian syari’at dan meninggalkan sebagian yang lain. Semua dibungkus dengan dalih-dalih yang intinya atas dasar hawa nafsu manusia.

Padahal, sikap sengaja mengamalkan syari'at Islam sepotong-sepotong diancam oleh Allah Ta’ala; dengan kehinaan di dunia dan adzab yang pedih di hari Kiamat nanti:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al Baqarah: 85)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Kini jelaslah, bahwa kewajiban pokok dan utama di dalam hidup ini adalah dengan menerapkan syari'ah Islam secara kaffah (totalitas). Tidak sepotong-sepotong; tidak dengan melaksanakan sebagian dan membuang sebagian yang lain; dan tidak boleh dengan menawar-nawar. Kita wajib mengatur seluruh aspek hidup baik menyangkut urusan pribadi, keluarga dan negara dengan syari'ah Islam.

Namun, mustahil pengamalan syari'ah Islam secara kaffah tanpa melalui instrumen kekuasaan atau lembaga pemerintahan. Itulah sebabnya, kenapa Rasulullah setelah berhijrah ke Yatsrib kemudian membangun sebuah negara di Madinah. Tentu hal ini dilakukan sebagai konsekwensi logis dari berislam kaffah. Dan yang pasti, fi’liyyah Nabi dalam hal ini bukanlah berkategori jibiliyah atau khususiyah, melainkan bayaanan lid-dien (penjelas bagi agama) yang memiliki konsekwensi syar’i. Artinya, pekerjaan Nabi membangun negara di Madinah, adalah sebuah ajaran yang wajib diikuti, bukan sekadar aktifitas beliau sebagai pribadi. Ini sudah menjadi ijma’ (konsensus) di kalangan Ulama Muktabar.

Itulah sunnah Nabi yang sempurna. Para Sahabat sangat memahami hal ini. Karenanya, begitu Rasulullah wafat, mereka segera bermusyawarah menentukan kepala pemerintahan sebagai pengganti (khalifah). Kekhalifahan itu selanjutnya mengamalkan dua tugas utama yaitu: Hirasatud dien (pengawal dien) dan Siyasatud dunya bid-dien (mengatur dunia dengan nilai dien). Dari situlah terpancar keadilan, ketenteraman, dan kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh ummat manusia selama berabad-abad. Dan itulah makna sesungguhnya dari rahmatan lil-'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta).

Maka, ketika kekuasaan Islam runtuh, dan dunia dikuasai kaum kafir yang ingkar kepada syari'at Allah, sejak itu hingga hari ini, umat manusia diliputi kezaliman, kekacauan, kerusakan akhlak, dan ditimpa berbagai macam bencana alam serta penyakit yang mengerikan. Ini adalah akibat dari tidak ditunaikannya syari’at ini.

Karenanya, syari’at ini harus kita tunaikan secara kaffah melalui lembaga pemerintahan. Itulah sunnah Nabi dan para Sahabat yang wajib kita ikuti. Kita tidak boleh mengubahnya dengan alasan apapun, kita tidak boleh merasa cukup mengamalkan Islam dengan cara perorangan atau kelompok di bawah kekuasaan Kafir dan atau Sekuler. Mari kita renungkan firman Allah:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (Qs. An-Nur : 63)

Hadirin dan hadirat hafidzakumullah.

Alhamdulillah, sebagai rakyat Indonesia, yaitu hamba-hamba Allah yang ditempatkan di bumi Allah bernama Indonesia ini, kita telah dikaruniai negara yang sangat hebat. Sebuah negara yang terdiri dari puluhan ribu pulau-pulau dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Jumlah penduduknya tidak kurang dari 200 juta orang. Disatukan di bawah naungan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Yang harus kita ingat, bahwa wujudnya NKRI ini ini tidak bisa dilepaskan dari saham besar umat Islam. Sejarah emas Indonesia mencatat, peran para ulama, santri, politisi muslim, dan pemuda-pemuda Islam dalam mengusir penjajah kafir Belanda.

Sejarah mencatat, bagaimana Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi NU dari Ponpes Tebu Ireng Jombang, pernah mengeluarkan fatwa wajib jihad fi sabilillah melawan penjajah kafir Belanda. Demikian juga Jenderal Sudirman, guru agama sekolah Muhammadiyah, yang terjun memimpin pasukan gerilya mengusir penjajah. Di Surabaya, kita kenal Bung Tomo, yang dengan gelora semangat “Allahu Akbar” mampu membakar semangat rakyat melawan penjajah kafir Inggris. Juga tokoh-tokoh politik muslim seperti KH. Wahid Hasyim, Dr. Muchammad Roem, Muhammad Natsir, dan lain-lain; yang menggerakkan umat untuk melawan kaum penjajah kafir agar enyah dari Indonesia. Apa yang menjadi ruh dari sikap patriotisme itu? Tak lain adalah Islam. Tak lain adalah Jihad.

Maka berkat semangat Jihad, akhirnya Allah Ta’ala berkenan memberi karunia kemerdekaan NKRI ini. Adapun niat dan tujuan para pejuang muslim berjihad melawan penjajah kafir itu, tentu bukan sekadar tercapainya kemerdekaan negara belaka, tetapi kemerdekaan untuk mengamalkan seluruh syari'ah Islam. Itulah yang terpenting dalam kehidupan setiap muslim hingga kewajiban beribadah terlaksana secara sempurna. Sebab, pada zaman penjajahan tempo dulu, umat Islam dihalangi untuk mengamalkan syari'at Islam secara kaffah oleh penjajah kafir Belanda, Inggris, dan Jepang.

Tapi sungguh ironis. Ketika para penjajah kafir itu berhasil diusir, mereka ternyata telah menanamkan kader-kader terlaknat mereka justru dari anak bangsa ini sendiri. Pendidikan sekuler yang mereka berikan saat menjajah, membuat kader-kader terlaknat ini menjadi penghalang diberlakukannya syari’at Islam. Dibantu oleh kelompok salibis, oknum-oknum ini bahkan lebih semangat dan licik dari penjajah Eropa sendiri dalam menghalangi syari’at Islam.

Related Post :