Toko Adventure Terbaru

Selasa, 23 September 2008

Khutbah Iedul Fitri 1429H (02) oleh : KH. Bbu Bakar Ba'asyir









Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.

Memang, sudah menjadi sunnatullah bahwa pada setiap amal ibadah, pasti ada penghalangnya. Allah Ta’ala telah menggariskan bahwa penghalang utama, adalah musuh dari setan jin dan setan manusia. Allah berfirman:

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu …" ((Q.S. Al An'am: 112)

Dalam memerangi Islam, setan manusia dan setan jin itu tidak mengenal putus asa. Mereka akan menempuh seribu satu cara untuk mencapai tujuannya:

"Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." ((Q.S. Al-A'raf : 16-17)

Demi menyesatkan manusia dari jalan Allah, mereka tidak segan-segan mengorbankan harta dan biaya yang tidak terbatas, berapapun jumlahya, sepanjang diperlukan, meskipun berakhir dengan kekecewaan dan kekalahan:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan." (Qs. Al-Anfal : 36).

Setidaknya ada tiga jurus yang biasa dilakukan setan manusia dalam memerangi Islam:

1. Menghentikan sama sekali perjuangan Islam (يصدون عن سبيل الله) pada saat mereka menguasai ummat Islam.

2. Merusak dan menyimpangkan ajaran-ajaran Islam dari makna yang sebenarnya, disesuaikan selera hawa nafsu mereka (يبغونها عوجا.). Inilah yang dimaksud dengan ghazwul fikri.

"Yaitu orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." ((Q.S. Al-A'raf: 45)

"(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh." ((Q.S. Ibrahim: 3)

Louis IX berpesan kepada negara Eropa: "Kalian tidak mungkin dapat mengalahkan kaum muslimin di medan perang, kalian harus mengalahkan mereka terlebih dahulu di medan pemikiran. Setelah itu akan mudah bagi kalian untuk menguasai mereka. Dan mereka adalah kaum yang hati-hati terhadap bius-bius budaya kalian".

3. Memerangi secara fisik dengan sejata.

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…." ((Q.S. Al Baqarah: 217)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Makar-makar setan manusia yang menghalangi tegaknya hukum Allah sebagaimana dalam ayat-ayat diatas, juga kita rasakan di awal kemerdekaan negeri kita ini. Seperti tercatat dalam sejarah penyusunan konstitusi negeri ini, Piagam Jakarta yang semula sudah disepakati, dijegal dan ditolak untuk masuk menjadi pembukaan UUD 1945. Umat Islam bahkan selalu dipojokkan dan difitnah oleh pemerintah dan kelompok sekuler, hanya karena mereka ingin menjadi hamba Allah yang sebenarnya dengan berislam secara kaffah.

Selanjutya, kita disuguhi sejenis “pemurtadan” kolektif; dimana pemerintah menolak ditegakkannya syari'at Islam dalam pemerintahan. Padahal, mayoritas penduduk negeri ini adalah umat Islam. Sementara, payung hukum pasal 29 ayat 2 yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut kepercayaan masing-masing, ternyata dikhianati. Sebabnya, antara lain karena UUD 1945 tidak memberi penjelasan ataupun definisi yang jelas tentang makna ibadah di dalam pasal 29 ayat 2 itu. Ibadah lebih diartikan secara sempit pada ibadah ritual belaka antara hamba dengan Sang Khaliq. Atau kalau ada yang bersifat horisontal, dipilih-pilih yang memilili nilai ekonomis seperti haji dan zakat. Sementara hukum-hukum lain, dicampakkan.

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa hidup hanya untuk beribadah, dan bahwa ibadah harus dengan menerapkan syariah Allah secara kaffah dalam lembaga negara; maka apabila kita ingin fid-dunya hasanah dan fil-akhirati hasanah, kita wajib sekuat tenaga untuk merealisasikan hal di atas. Rasulullah sudah memberikan contoh, demikian juga para Khulafaur-Rasyidin. Untuk mencapai tujuan suci ini, kita wajib menyingsingkan lengan, berjuang dengan penuh keikhlasan, kesungguhan, kesabaran dan siap berkorban baik harta maupun nyawa bila diperlukan. Kita harus bertekad bulat menjadikan syari'ah Islam sebagai hukum positif di negara kita ini.

"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." ((Q.S. An-Nisa': 104)

"Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu." ((Q.S. Muhammad: 35)

"Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi Kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (mendapatkan kemenangan atau mati syahid). Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. sebab itu tunggulah, Sesungguhnya Kami menunggu-nunggu bersamamu." (Qs. At-Taubah: 52).

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Perjuangan menegakkan syariah Islam disamping memerlukan keikhlasan, kesungguhan, kesabaran dan pengorbanan, juga memerlukan kebersamaan. Kita harus menyamakan gerak langkah untuk mencapai tujuan-tujuan pokok. Kita boleh berlainan paham dalam masalah-masalah kecil (furu') serta wajib saling menghormati, tetapi kita wajib sepakat dan sepaham dalam masalah-masalah prinsip (ushul).

Kita boleh berlainan paham dalam hukum boleh atau tidaknya membaca doa qunut pada shalat Subuh, tetapi kita wajib sepaham tentang wajibnya memperjuangkan pelaksanaan syari'ah Islam dalam pemerintahan. Kenapa? karena ini masalah prinsip yang jelas dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat. Semua ulama muktabar, terutama imam madzhab yang empat, sepakat bulat tentang hal ini.

Persatuan dan kebersamaan dalam rangka menegakkan dien ini jelas di perintah oleh Allah Ta’ala:

"Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (Qs. As-Syura: 3)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Kepada bangsa Indonesia yang non muslim tidak perlu khawatir, karena dengan berlakunya syari’at Islam mereka akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dan lebih adil, asalkan mereka tidak mengganggu dan menghalangi tegaknya syari’at Islam. Ini merupakan perintah Allah Ta’ala:

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil." (Al Mumtahanah: 8)

Maka dengan mengharap pertolongan Allah Ta’ala, saya menyerukan kepada seluruh ummat Islam, Mari kita satukan langkah!. Mari kita berjuang menegakkan syariah Islam di negara kita khususnya, dan di negeri-negeri muslim lain umumnya. Mari kita raih kehidupan yang mulia atau kematian sebagai syuhada (Hidup Mulia atau Mati Syahid).

Kepada rakyat Indonesia yang beragama selain Islam, mari kita hidup damai, tolong-menolong dalam urusan dunia dan tidak menghalangi orang lain yang berusaha mengamalkan keyakinan dan syari’ah agamanya.

"Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". ((Q.S. Ali Imran: 64)

Selanjutnya kepada pemerintah saya wasiatkan, Berhentilah mendeskreditkan ummat Islam yang ingin menegakkan syari’at Islam secara kaffah. Hentikan penangkapan terhadap ulama, da'i dan pejuang-pejuang Islam, karena itu semua adalah tindakan yang dimurkai Allah Ta’ala. Jangan korbankan anak bangsa sendiri untuk memenuhi pesanan bangsa Kafir Musuh Allah.

Kepada para pejabat muslim dan elit politik, saya menyerukan, Tunaikan amanah yang dibebankan diatas pundak saudara-saudara dengan mengelola negara karunia Allah ini dengan hukum dan aturan-Nya, jangan mengikuti hawa nafsu kaum yang menentang berlakunya syari’ah Islam secara kaffah meskipun jumlah mereka mayoritas.

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." ((Q.S. Al Maidah: 48)

Berpegang teguhlah kepada hukum-hukum Allah yang akan membawa bangsa dan negara ini kepada kemuliaan dan kemakmuran yang penuh barakah:

"Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab." ((Q.S. Al-Zukhruf: 43-44)

"Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." ((Q.S. Al A'raf: 96)

Janganlah Anda mengkhianati Allah dan mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada saudara-saudara. Karena hal itu akan menyebabkan malapetaka dan membawa kehancuran yang mengerikan bagi kehidupan pribadi saudara, bangsa, dan negara kita.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." ((Q.S. Al Anfal: 27-28)

Kepada para Pejabat yang beragama selain islam janganlah Anda menghalangi pelaksanaan islam secara kaffah di Negara ini. Perbuatan Anda pasti sia-sia, karena islam pasti menang dan setiap penentangnya pasti hancur.

Allah berfirman:

Artinya:

Allah Telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Mujadilah 21)

Demikianlah seruan saya semoga dibenarkan dan diridhai Allah swt. Amin.

"Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya". (Q.S. Al Mukmin: 44).

***

Related Post :